Minggu, 15 Mei 2016

Resensi Memories of Murder - Kisah Pembunuhan Berantai Pertama di Korea


(tulisan yang tercecer dari bulan Juni 2015)


Judul Asli: Sarinui Chueok
Sutradara: Bong Jon-hoo
Produser: Cha Seung-jae
Ide Cerita: Kim Kwang-rim (adaptasi buku Memories of Murder)
Penulis Skenario: Bong Jon-hoo, Shim Sung-bo
Komposer Musik: Taro Iwashiro
Sinematografi: Kim Hyung-koo
Penyunting Film: Kim Sun-min
Studio Produksi: CJ Entertainment Sidus Pictures
Distributor: CJ Entertainment
Pemain: Song Kang-ho, Kim Sang-kyung, dkk.

Menarik, karena film arahan sutradara Bong Jon-hoo ini adalah satu di antara dua film Korea yang muncul di daftar 250 besar IMDb per Juni 2015 (satunya lagi adalah 'Oldboy'). Sehingga waktu saya tak sengaja menemukan filmnya di sebuah rental DVD orisinal, spontan langsung saya pinjam.

Film ini menarasikan kisah nyata pembunuhan berantai pertama yang tercatat dalam sejarah Korsel, yaitu kasus pembunuhan Hwanseong yang terjadi dalam kurun waktu tahun 1986-1991--yang, sayangnya, tidak terpecahkan hingga sekarang. Semua korbannya wanita, diperkosa sebelum dibunuh, juga disumpal dan diikat dengan pakaian dalamnya sendiri. Kasus ini ditangani oleh detektif lokal Park Doo-Man (Song Kang-Ho) bersama rekannya yang lebih suka pakai otot daripada otak. Tidak ada bukti? Palsukan saja. Tersangka tidak mau mengaku? Pukuli saja sampai mau mengaku. Jelas saja kasus ini tidak mengalami kemajuan meskipun korbannya sudah dua orang. Kemudian datanglah seorang detektif dari Seoul, Seo Tae-Yoon (Kim Sang-Kyung) yang secara sukarela ingin membantu investigasi. Berbeda dengan Park, Seo lebih mengandalkan logikanya, sehingga tim investigasi berhasil menemukan korban ketiga yang belum ditemukan sebelumnya. Namun dari situ kasus menjadi buntu. Tidak ada saksi mata, sedikit sekali bukti. Cara kerja detektif Park dan detektif Seo yang bertolak belakang juga jadi pemicu konflik tersendiri. Investigasi sulit menemukan titik terang, sementara jumlah korban terus bertambah.


Seperti film 'Titanic', meskipun penonton sudah (diberi)tahu ending-nya dari awal film, film ini tetap mampu mempresentasikan cerita yang layak ditonton. Film ini juga menampilkan berbagai macam emosi, mulai dari kekonyolan sentilan-sentilan komedi gelap dalam beberapa adegannya, hingga rasa frustrasi ketika para detektif gagal mendapatkan bukti otentik untuk menjerat tersangka utama. Tidak seperti cerita Detektif Conan di mana kasus kriminal bisa dipecahkan dalam sekejap, di sini penyelidikan kasus adalah proses yang panjang dan melelahkan. Saya merasakan hal yang mirip seperti ketika menonton 'Zodiac' (David Fincher, 2007) yang dibintangi Jake Gyllenhaal, Robert Downey Jr., dan Mark Ruffalo, yang juga mengambil tema kasus pembunuhan berantai yang tak terpecahkan. Namun, saya rasa 'Memories of Murder' memiliki kelebihan tersendiri, yaitu pesan kuat yang tersampaikan dengan baik--setidaknya menurut saya. Dari film ini saya belajar bahwa tidak semua pertanyaan dalam hidup ini bisa terjawab, dan kadangkala (atau seringkali) kebenaran tidak dapat diraih. Mampukah kita bertahan dalam hidup yang seperti itu? Hanya kita yang bisa menjawabnya.

Saya bersyukur sekali bisa menyaksikan film Asia sehebat ini.

Skor: 8,2/10

Resensi Final Fantasy: The Spirits Within - Ketika Spiritualitas Berpadu dengan Fiksi Ilmiah




Sutradara                : Hironobu Sakaguchi
Produser                 : Akio Sakai, Chris Lee
Ide Cerita                : Hironobu Sakaguchi
Penulis Skenario     : Al Reinert, Jeff Vintar
Komposer Musik    : Elliot Goldenthal
Penyunting Film     : Chris S. Capp
Studio Produksi       : Square Pictures
Distributor               : Columbia Pictures
Tanggal Rilis          : 13 Juli 2001 (Amerika Serikat)
Pemain                    : Ming-Na Wen, Alec Baldwin, James Woods, Donald Sutherland, dkk.


Nama Final Fantasy pastinya sudah tidak asing lagi terutama bagi orang-orang yang menyukai video game. Final Fantasy merupakan serial RPG (role-playing game) legendaris karya Hironobu Sakaguchi dan timnya di bawah naungan studio game Squaresoft (sekarang SquareEnix). Game Final Fantasy pertama kali rilis pada tahun 1987 di konsol NES (Nintendo Entertainment System). Sampai sekarang pun seri Final Fantasy masih eksis dan sudah banyak sekali menelurkan seri utama dan spin-off di berbagai konsol game--dengan Final Fantasy XV sebagai seri utama terbaru yang akan rilis tahun ini. The Spirits Within merupakan upaya pertama dari Squaresoft untuk mengangkat Final Fantasy ke layar lebar.




Final Fantasy: The Spirits Within berkisah dalam dunia pasca kiamat pada tahun 2065, ketika sebagian besar populasi manusia di Bumi musnah karena invasi makhluk alien tak kasat mata yang disebut Phantom. Umat manusia yang tersisa berlindung di 'barrier city'. Di tengah krisis ini, Dr. Aki Ross (Ming-Na Wen) dan Dr. Cid (Donald Sutherland) menemukan bahwa struktur tubuh Phantom terdiri atas gelombang tertentu (disebut gelombang 'energi jiwa' atau spirit), dan dapat dinetralisir menggunakan energi gabungan dari 8 spirit khusus yang tersebar acak dalam makhluk hidup yang tersisa di Bumi. Jika 8 spirit itu terkumpul, energinya dapat difokuskan untuk melenyapkan seluruh Phantom dari muka Bumi. Maka dimulailah misi Dr. Aki Ross mengumpulkan kedelapan spirit tersebut, dibantu oleh Kapten Gray Edwards (Alec Baldwin) beserta skuadnya. Tapi hal itu mendapat tentangan dari Jenderal Hein (James Woods) yang bersikeras memilih cara 'instan' dengan menembakkan meriam angkasa Zeus ke meteorit sumber asal para Phantom, meski beresiko dapat menghancurkan spirit Bumi bersamanya. Di samping itu, Dr. Ross juga mendapat mimpi aneh yang terulang setiap malamnya, tentang sebuah planet misterius. Berhasilkan Dr. Aki Ross dkk. mendapatkan 8 spirit itu tepat pada waktunya? Dan apa sebenarnya arti dari mimpi Dr. Ross itu?



Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Final Fantasy: The Spirits Within tercatat sebagai salah satu film paling merugi dalam sejarah. Sebagian besar orang dan penggemar game Final Fantasy pun tidak puas dengan film ini. Salah satu alasannya adalah karena The Spirits Within dianggap terlalu sci-fi dan malah lebih mirip film Alien (Ridley Scott, 1979) yang dibintangi Sigourney Weaver ketimbang seri game Final Fantasy itu sendiri. Seolah-olah The Spirits Within hanya 'Final Fantasy dalam nama saja'. Penokohan dan perwatakan karakter yang dirasa agak datar dan kurang mendalam juga menjadi sasaran komplain. 

Tapi apakah dengan demikian langsung dapat disimpulkan bahwa Final Fantasy: The Spirits Within itu film yang jelek?




Perlu diingat bahwa Final Fantasy: The Spirits Within adalah film dengan teknologi animasi 3D tercanggih pada masanya. Wujud karakter-karakternya terlihat sangat realistis sampai beberapa detail kecilnya. Bahkan kehebatan animasi The Spirits Within bisa dibilang mampu melebihi konsol-konsol video game pada waktu itu. 

Untuk argumen yang menyatakan bahwa The Spirits Within itu 'bukan Final Fantasy,' perlu diketahui bahwa sebetulnya antar seri Final Fantasy pun tidak pernah sama antara satu dengan lainnya--Final Fantasy III tidak sama dengan Final Fantasy IV, FF VIII tidak sama dengan FF IX, dan seterusnya. Selalu dengan cerita yang berbeda, latar yang berbeda, bahkan kadang genre yang berbeda, meskipun selalu terdapat 'ciri khas' ataupun hal-hal ikonik seperti Chocobo, Moogle, tokoh bernama Cid, dan penamaan mantra sihir yang khas. Sekalipun ciri-ciri khas Final Fantasy itu tidak semuanya dimiliki The Spirits Within (hanya tokoh bernama Cid saja), namun bila diamati dengan jeli, sebetulnya ada benang merah tipis yang menghubungkan The Spirits Within dengan Final Fantasy  lainnya, yaitu teori Gaia. Teori ini, yang menyatakan bahwa planet Bumi adalah entitas yang hidup dan memiliki jiwa, cukup identik dengan konsep Lifestream pada game Final Fantasy VII  (Squaresoft, 1997) di konsol PlayStation.



Final Fantasy: The Spirits Within adalah film fiksi ilmiah/sci-fi, namun mengusung konsep spiritualitas yang dirangkum dalam teori Gaia yang diutarakan Dr. Cid. Konflik yang terjadi pun adalah konflik spiritual, baik secara harfiah dalam bentuk konflik fisik (melawan alien Phantom yang berwujud halus), maupun secara figuratif berupa konflik antartokoh protagonis dan antagonis: Dr. Aki Ross yang spiritual, berusaha menyelamatkan semua jiwa termasuk jiwa planet Bumi, melawan Jendral Hein yang non-spiritual, menghalalkan segala cara untuk melenyapkan ancaman Phantom dan tak peduli bahwa tindakannya berpotensi merusak planet Bumi. Spiritualitas, yang notabene sering dikontradiksikan dengan keilmiahan, berhasil melebur dengan baik dan harmonis dalam tema sci-fi yang diusung.



Meskipun Final Fantasy: The Spirits Within tidak mendapat apresiasi dari banyak orang termasuk penggemar seri game-nya, dan mengalami kerugian komersial yang cukup besar sehingga Squaresoft nyaris bangkrut total, tapi saya yakin bahwa film ini akan terus diingat sejarah sebagai pelopor teknologi canggih animasi 3D dalam dunia perfilman.  

Skor: 8,8/10

Sabtu, 19 Maret 2016

Resensi About A Woman: Tentang Sepi, Hasrat, dan Sinematografi Minimalis

Senang sekali akhirnya saya bisa resmi membuka blog ini dengan tulisan, setelah terdampar menjadi wacana sekian lama. Selamat datang, selamat membaca, dan selamat menikmati tulisan perdana saya ini.

About A Woman
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja
Penulis Skenario: Teddy Soeriaatmadja
Pemain: Tutie Kirana, Rendy Ahmad, Anneke Jodi, Ringgo Agus Rahman

Pada 18 Maret lalu, saya berkesempatan menghadiri pemutaran film About A Woman yang diselenggarakan atas kerjasama komunitas sinematografi Click ITS dan INFIS. Film ini diputar sebagai penutup dari rangkaian acara ITS Play Movie yang sebelumnya juga memutarkan film-film pendek pilihan dari negara-negara Asia Tenggara, yaitu dari Thailand, Singapura, Malaysia, dan Filipina.



About A Woman berkisah tentang seorang janda tua (Tutie Kirana) yang tinggal sendiri di rumah, dengan hanya ditemani seorang pembantunya. Suatu ketika, si pembantu harus pulang kampung, dan sang janda betul-betul harus mengurus diri dan mengerjakan segala pekerjaan rumahnya sendirian saja. Putri dan menantu sang janda tentu khawatir dan segera mencarikan pembantu baru untuk sang janda. Akhirnya Abi (Rendy Ahmad), keponakan si menantu yang baru lulus SMA, mengisi lowongan sebagai pembantu rumah sang janda. Kemunculan seorang lelaki yang mengisi rumah, lama setelah suaminya tiada, sedikit demi sedikit membangkitkan sebuah hasrat dalam diri sang janda.

Film ini bisa dibilang cukup minimalis. Tidak banyak latar tempat. Banyak adegan yang dibuat serupa dalam latar tempat dan posisi kamera yang sama--mungkin untuk menunjukkan sebuah rutinitas kehidupan seorang janda tua yang hanya menghabiskan hari-harinya di rumah saja. Bahkan film ini hampir tidak menggunakan musik latar sama sekali. Musik latar hanya ada di satu adegan dan end credits saja.

Meski begitu, daya bercerita Teddy Soeriaatmadja selaku sutradara betul-betul luar biasa. Walau nyaris tanpa musik, film ini mampu menarik penonton larut dalam tiap adegannya dan tingkah laku tokoh-tokohnya yang disajikan dengan apik dan begitu tampak karakterisasinya--seperti tokoh Tutie Kirana sebagai sang janda yang tegar dan tegas bak ratu, tokoh Ringgo Agus Rahman sebagai si menantu yang 'jago marketing' alias suka promosi sana sini, tokoh Anneke Jodi sebagai putri sang janda yang baik namun agak pemberontak, serta tokoh Rendy Ahmad sebagai Abi yang penurut tapi menyimpan sebuah pesona tersendiri. Sinematografi yang banyak menggunakan kamera diam juga memberikan kesan ganda: monoton namun dapat membuat penonton terfokus pada tingkah laku tokoh ceritanya.

Film ini mengangkat tema yang cukup sensitif--setidaknya menurut budaya Indonesia saat ini--yakni tentang seksualitas. Agama (mungkin) juga di-'sindir' secara subtil di sini, yaitu pada adegan ketika sang janda menegur putrinya yang terus merokok meskipun sang putri itu berjilbab. 

Unsur seksualitas yang ditampilkan di sini cukup kental. Memang, tidak ada adegan yang kelewat eksplisit (baca: bercinta) di sini, tapi cukup vulgar untuk membuat orang merasa agak tidak nyaman--terutama karena di negara ini seksualitas masih sering dianggap tabu. Tokoh Abi memberikan warna lain pada tokoh sang janda, perlahan membangkitkan seksualitasnya yang lama mati seiring kepergian sang suami. Hal ini sekilas mengingatkan saya pada film American Beauty (Sam Mendes, 1999).

Secara keseluruhan, film ini merupakan film yang sangat baik. Mampu berekspresi secara sempurna meskipun minimalis dan nyaris tanpa musik. Meskipun demikian, saya rasa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya siap untuk menerima film semacam ini, terutama karena tema yang diangkat.

Skor: 7,7/10