Minggu, 15 Mei 2016

Resensi Final Fantasy: The Spirits Within - Ketika Spiritualitas Berpadu dengan Fiksi Ilmiah




Sutradara                : Hironobu Sakaguchi
Produser                 : Akio Sakai, Chris Lee
Ide Cerita                : Hironobu Sakaguchi
Penulis Skenario     : Al Reinert, Jeff Vintar
Komposer Musik    : Elliot Goldenthal
Penyunting Film     : Chris S. Capp
Studio Produksi       : Square Pictures
Distributor               : Columbia Pictures
Tanggal Rilis          : 13 Juli 2001 (Amerika Serikat)
Pemain                    : Ming-Na Wen, Alec Baldwin, James Woods, Donald Sutherland, dkk.


Nama Final Fantasy pastinya sudah tidak asing lagi terutama bagi orang-orang yang menyukai video game. Final Fantasy merupakan serial RPG (role-playing game) legendaris karya Hironobu Sakaguchi dan timnya di bawah naungan studio game Squaresoft (sekarang SquareEnix). Game Final Fantasy pertama kali rilis pada tahun 1987 di konsol NES (Nintendo Entertainment System). Sampai sekarang pun seri Final Fantasy masih eksis dan sudah banyak sekali menelurkan seri utama dan spin-off di berbagai konsol game--dengan Final Fantasy XV sebagai seri utama terbaru yang akan rilis tahun ini. The Spirits Within merupakan upaya pertama dari Squaresoft untuk mengangkat Final Fantasy ke layar lebar.




Final Fantasy: The Spirits Within berkisah dalam dunia pasca kiamat pada tahun 2065, ketika sebagian besar populasi manusia di Bumi musnah karena invasi makhluk alien tak kasat mata yang disebut Phantom. Umat manusia yang tersisa berlindung di 'barrier city'. Di tengah krisis ini, Dr. Aki Ross (Ming-Na Wen) dan Dr. Cid (Donald Sutherland) menemukan bahwa struktur tubuh Phantom terdiri atas gelombang tertentu (disebut gelombang 'energi jiwa' atau spirit), dan dapat dinetralisir menggunakan energi gabungan dari 8 spirit khusus yang tersebar acak dalam makhluk hidup yang tersisa di Bumi. Jika 8 spirit itu terkumpul, energinya dapat difokuskan untuk melenyapkan seluruh Phantom dari muka Bumi. Maka dimulailah misi Dr. Aki Ross mengumpulkan kedelapan spirit tersebut, dibantu oleh Kapten Gray Edwards (Alec Baldwin) beserta skuadnya. Tapi hal itu mendapat tentangan dari Jenderal Hein (James Woods) yang bersikeras memilih cara 'instan' dengan menembakkan meriam angkasa Zeus ke meteorit sumber asal para Phantom, meski beresiko dapat menghancurkan spirit Bumi bersamanya. Di samping itu, Dr. Ross juga mendapat mimpi aneh yang terulang setiap malamnya, tentang sebuah planet misterius. Berhasilkan Dr. Aki Ross dkk. mendapatkan 8 spirit itu tepat pada waktunya? Dan apa sebenarnya arti dari mimpi Dr. Ross itu?



Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Final Fantasy: The Spirits Within tercatat sebagai salah satu film paling merugi dalam sejarah. Sebagian besar orang dan penggemar game Final Fantasy pun tidak puas dengan film ini. Salah satu alasannya adalah karena The Spirits Within dianggap terlalu sci-fi dan malah lebih mirip film Alien (Ridley Scott, 1979) yang dibintangi Sigourney Weaver ketimbang seri game Final Fantasy itu sendiri. Seolah-olah The Spirits Within hanya 'Final Fantasy dalam nama saja'. Penokohan dan perwatakan karakter yang dirasa agak datar dan kurang mendalam juga menjadi sasaran komplain. 

Tapi apakah dengan demikian langsung dapat disimpulkan bahwa Final Fantasy: The Spirits Within itu film yang jelek?




Perlu diingat bahwa Final Fantasy: The Spirits Within adalah film dengan teknologi animasi 3D tercanggih pada masanya. Wujud karakter-karakternya terlihat sangat realistis sampai beberapa detail kecilnya. Bahkan kehebatan animasi The Spirits Within bisa dibilang mampu melebihi konsol-konsol video game pada waktu itu. 

Untuk argumen yang menyatakan bahwa The Spirits Within itu 'bukan Final Fantasy,' perlu diketahui bahwa sebetulnya antar seri Final Fantasy pun tidak pernah sama antara satu dengan lainnya--Final Fantasy III tidak sama dengan Final Fantasy IV, FF VIII tidak sama dengan FF IX, dan seterusnya. Selalu dengan cerita yang berbeda, latar yang berbeda, bahkan kadang genre yang berbeda, meskipun selalu terdapat 'ciri khas' ataupun hal-hal ikonik seperti Chocobo, Moogle, tokoh bernama Cid, dan penamaan mantra sihir yang khas. Sekalipun ciri-ciri khas Final Fantasy itu tidak semuanya dimiliki The Spirits Within (hanya tokoh bernama Cid saja), namun bila diamati dengan jeli, sebetulnya ada benang merah tipis yang menghubungkan The Spirits Within dengan Final Fantasy  lainnya, yaitu teori Gaia. Teori ini, yang menyatakan bahwa planet Bumi adalah entitas yang hidup dan memiliki jiwa, cukup identik dengan konsep Lifestream pada game Final Fantasy VII  (Squaresoft, 1997) di konsol PlayStation.



Final Fantasy: The Spirits Within adalah film fiksi ilmiah/sci-fi, namun mengusung konsep spiritualitas yang dirangkum dalam teori Gaia yang diutarakan Dr. Cid. Konflik yang terjadi pun adalah konflik spiritual, baik secara harfiah dalam bentuk konflik fisik (melawan alien Phantom yang berwujud halus), maupun secara figuratif berupa konflik antartokoh protagonis dan antagonis: Dr. Aki Ross yang spiritual, berusaha menyelamatkan semua jiwa termasuk jiwa planet Bumi, melawan Jendral Hein yang non-spiritual, menghalalkan segala cara untuk melenyapkan ancaman Phantom dan tak peduli bahwa tindakannya berpotensi merusak planet Bumi. Spiritualitas, yang notabene sering dikontradiksikan dengan keilmiahan, berhasil melebur dengan baik dan harmonis dalam tema sci-fi yang diusung.



Meskipun Final Fantasy: The Spirits Within tidak mendapat apresiasi dari banyak orang termasuk penggemar seri game-nya, dan mengalami kerugian komersial yang cukup besar sehingga Squaresoft nyaris bangkrut total, tapi saya yakin bahwa film ini akan terus diingat sejarah sebagai pelopor teknologi canggih animasi 3D dalam dunia perfilman.  

Skor: 8,8/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar