Sabtu, 19 Maret 2016

Resensi About A Woman: Tentang Sepi, Hasrat, dan Sinematografi Minimalis

Senang sekali akhirnya saya bisa resmi membuka blog ini dengan tulisan, setelah terdampar menjadi wacana sekian lama. Selamat datang, selamat membaca, dan selamat menikmati tulisan perdana saya ini.

About A Woman
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja
Penulis Skenario: Teddy Soeriaatmadja
Pemain: Tutie Kirana, Rendy Ahmad, Anneke Jodi, Ringgo Agus Rahman

Pada 18 Maret lalu, saya berkesempatan menghadiri pemutaran film About A Woman yang diselenggarakan atas kerjasama komunitas sinematografi Click ITS dan INFIS. Film ini diputar sebagai penutup dari rangkaian acara ITS Play Movie yang sebelumnya juga memutarkan film-film pendek pilihan dari negara-negara Asia Tenggara, yaitu dari Thailand, Singapura, Malaysia, dan Filipina.



About A Woman berkisah tentang seorang janda tua (Tutie Kirana) yang tinggal sendiri di rumah, dengan hanya ditemani seorang pembantunya. Suatu ketika, si pembantu harus pulang kampung, dan sang janda betul-betul harus mengurus diri dan mengerjakan segala pekerjaan rumahnya sendirian saja. Putri dan menantu sang janda tentu khawatir dan segera mencarikan pembantu baru untuk sang janda. Akhirnya Abi (Rendy Ahmad), keponakan si menantu yang baru lulus SMA, mengisi lowongan sebagai pembantu rumah sang janda. Kemunculan seorang lelaki yang mengisi rumah, lama setelah suaminya tiada, sedikit demi sedikit membangkitkan sebuah hasrat dalam diri sang janda.

Film ini bisa dibilang cukup minimalis. Tidak banyak latar tempat. Banyak adegan yang dibuat serupa dalam latar tempat dan posisi kamera yang sama--mungkin untuk menunjukkan sebuah rutinitas kehidupan seorang janda tua yang hanya menghabiskan hari-harinya di rumah saja. Bahkan film ini hampir tidak menggunakan musik latar sama sekali. Musik latar hanya ada di satu adegan dan end credits saja.

Meski begitu, daya bercerita Teddy Soeriaatmadja selaku sutradara betul-betul luar biasa. Walau nyaris tanpa musik, film ini mampu menarik penonton larut dalam tiap adegannya dan tingkah laku tokoh-tokohnya yang disajikan dengan apik dan begitu tampak karakterisasinya--seperti tokoh Tutie Kirana sebagai sang janda yang tegar dan tegas bak ratu, tokoh Ringgo Agus Rahman sebagai si menantu yang 'jago marketing' alias suka promosi sana sini, tokoh Anneke Jodi sebagai putri sang janda yang baik namun agak pemberontak, serta tokoh Rendy Ahmad sebagai Abi yang penurut tapi menyimpan sebuah pesona tersendiri. Sinematografi yang banyak menggunakan kamera diam juga memberikan kesan ganda: monoton namun dapat membuat penonton terfokus pada tingkah laku tokoh ceritanya.

Film ini mengangkat tema yang cukup sensitif--setidaknya menurut budaya Indonesia saat ini--yakni tentang seksualitas. Agama (mungkin) juga di-'sindir' secara subtil di sini, yaitu pada adegan ketika sang janda menegur putrinya yang terus merokok meskipun sang putri itu berjilbab. 

Unsur seksualitas yang ditampilkan di sini cukup kental. Memang, tidak ada adegan yang kelewat eksplisit (baca: bercinta) di sini, tapi cukup vulgar untuk membuat orang merasa agak tidak nyaman--terutama karena di negara ini seksualitas masih sering dianggap tabu. Tokoh Abi memberikan warna lain pada tokoh sang janda, perlahan membangkitkan seksualitasnya yang lama mati seiring kepergian sang suami. Hal ini sekilas mengingatkan saya pada film American Beauty (Sam Mendes, 1999).

Secara keseluruhan, film ini merupakan film yang sangat baik. Mampu berekspresi secara sempurna meskipun minimalis dan nyaris tanpa musik. Meskipun demikian, saya rasa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya siap untuk menerima film semacam ini, terutama karena tema yang diangkat.

Skor: 7,7/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar