Rabu, 17 Agustus 2016

Resensi "Tiga Dara" - Harta Karun Sinema Klasik Indonesia

Sumber Gambar: IMDb

Sutradara               : Usmar Ismail
Komposer Musik    : Sjaiful Bachri
Studio Produksi      : PT. PERFINI Films; Restorasi digital oleh PT. Render Digital Indonesia
Tanggal Rilis          : Tahun 1956; 11 Agustus 2016 (edisi restorasi)
Genre                    : Drama musikal
Pemain                  : Chitra Dewi, Mieke Wijaya, Indriati Iskak, Fifi Young, Bambang Irawan, dkk.


Sedikit membuka memori lampau, saya pernah menyaksikan film ini pada peringatan ulang tahun Kota Surabaya dua tahun silam (31 Mei 2014). Selain sebagai apresiasi sinema klasik, pemutaran "Tiga Dara" waktu itu juga sebagai apresiasi atas Indriati Iskak--salah satu pemeran utamanya--yang juga adalah seorang arek Suroboyo. Ketika muncul kabar bahwa film "Tiga Dara" direstorasi dan ditayangkan di bioskop-bioskop terpilih, seketika muncul dorongan untuk menontonnya kembali. Bersama tulisan ini, saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang terlibat dalam restorasi "Tiga Dara" ini, yang telah mencurahkan segenap waktu dan tenaga untuk menggali kembali salah satu harta karun dalam bumi sinema Indonesia.

"Tiga Dara" mengisahkan tiga bersaudari Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Wijaya), dan Nenny (Indriati Iskak) yang tinggal bersama sang ayah dan sang nenek (Fifi Young). Ketiga saudari ini memiliki sifat khas masing-masing: Nunung putri tertua yang telaten, Nana putri kedua yang luwes bergaul,  Nenny putri bungsu yang jahil dan cerdik. Cerita diawali dari ulang tahun Nunung yang ke-29. Sang nenek merasa sangat kebingungan sebab si putri tertua tak kunjung mendapat jodoh. Sifat Nunung yang agak kaku pun semakin mempersulit masalah. Sang nenek beserta seluruh keluarga pun menyusun rencana agar Nunung segera mendapat jodoh. Namun, salah satu adik Nunung sendiri malah menjadi faktor penghambat dalam keberhasilan rencana tersebut. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Nunung akan mendapatkan tambatan hati?

Sumber Gambar: Wikipedia
Sekilas premis film ini terlihat klise di zaman sekarang. Namun penulis cerita dan skenario--sayang sekali namanya lupa saya catat di kredit film--mampu meramunya dengan apik. Tidak seperti roman picisan, "Tiga Dara" mampu menyajikan konflik cinta segitiga dalam balutan persaingan antarsaudari dengan sangat menarik. Cinta segitiga itu pun akhirnya 'bertabrakan' juga dengan rangkaian peristiwa-peristiwa lainnya yang tak terduga, sehingga hasil akhirnya jauh dari klise.

Masing-masing pemain, khususnya ketiga pemeran yang jadi sorotan utama, berhasil membawakan perannya dengan sangat baik. Chitra Dewi sebagai Nunung yang pengayom tapi agak keras hati, Mieke Wijaya sebagai Nana yang kelewat pandai bergaul, Indriati Iskak sebagai si bungsu Nenny yang centil, cerdik, dan pandai membaca situasi--ketiganya merupakan nyawa yang menjadikan film ini sangat hidup.

Selain peran ketiga aktris utama, lagu-lagu pengisi film ini juga tak kalah penting. Lagu-lagu pilihan lintas genre dari Indonesia era 50-an--yang beberapa di antaranya adalah ciptaan Ismail Marzuki, tidak hanya sebagai pemanis adegan saja tapi juga tulang belakang dari film ini. Adegan-adegan musikalnya pun disajikan dalam berbagai gaya: ada yang bernuansa khas Melayu, ada yang bernuansa kebaratan, ada pula yang tersentuh gaya musikal India.


Sumber Gambar: The Jakarta Post

Secara keseluruhan, "Tiga Dara" adalah film apik yang membawa kita menyelami suasana klasik Indonesia dengan kekuatan musikalnya. Tapi saya cukup menyayangkan betapa sedikitnya penonton yang hadir dalam teater saat saya menonton film ini. Apa pun yang terjadi selanjutnya, saya harap itu tidak akan menyurutkan semangat insan film Indonesia untuk tetap mengapresiasi karya-karya klasiknya, yang tentu dapat menjadi referensi untuk menciptakan karya-karya yang lebih baik lagi ke depannya.

Maju terus perfilman Indonesia!

Skor: 8,8/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar