![]() |
| Sumber gambar: IMDb |
Sutradara : Takeshi Nozue
Produser : Hajime Tabata
Penulis Skenario : Takashi Hasegawa
Komposer Musik : John R. Graham, Yoko Shimomura
Studio Produksi : Square Enix
Distributor : Square Enix, Sony Pictures
Pemain : Aaron Paul, Lena Headey, Sean Bean, dkk.
Genre : Fantasi, aksi, animasi
Durasi : 110 menit
Tanggal Rilis : 19 Agustus 2016 (Amerika Serikat)
Dalam sebuah kesempatan yang cukup jarang, akhirnya saya bisa menyaksikan "Kingsglaive: Final Fantasy XV". Ini adalah film layar lebar ketiga yang diadaptasi dari serial video game Final Fantasy (Squaresoft/Square Enix, 1987-sekarang) setelah "Final Fantasy: The Spirits Within" (2001) dan "Final Fantasy VII: Advent Children" (2005). "Kingsglaive: Final Fantasy XV" merupakan kisah prekuel dari video game Final Fantasy XV yang akan dirilis November tahun ini di konsol PlayStation 4.
Alkisah, tersebutlah sebuah Kristal yang merupakan inti energi magis di dunia. Selama berabad-abad, Kerajaan Lucis yang pendamai melindungi Sang Kristal. Namun di sisi lain, Kekaisaran Niflheim dengan kemajuan teknologi militer dan Magitek (mesin sihir) yang dimilikinya, berusaha merenggut Kristal tersebut. Akibatnya, terjadi pertempuran tak berkesudahan antara dua kerajaan besar itu, dan kerajaan-kerajaan kecil jatuh pada tangan besi Niflheim. Sebagai langkah terakhir, Raja Lucis meminjam kekuatan Kristal untuk mendirikan Tembok Magis Raksasa untuk melindungi seluruh Kerajaan Lucis dari gempuran Niflheim. Pertempuran panjang antar kedua kerajaan itu pun usai.
![]() |
| Sumber gambar: Final Fantasy Union |
Satu hal yang akan langsung tampak menonjol di film ini adalah kualitas visualnya. Animasi CGI yang tampak sangat hidup, sehingga kenampakan tokoh-tokoh "Kingsglaive" serasa sangat manusiawi--mulai dari gerak-gerik sampai ekspresi wajah dalam detail terkecilnya. Visualisasi adegan laga dalam film ini juga luar biasa layaknya film blockbuster, meskipun penonton mungkin agak kesulitan mengikutinya karena aksi pertarungan yang sangat cepat.
| Sumber gambar: Siliconera |
Akting para pengisi suara yang prima turut memberikan kekuatan pada "Kingsglaive". Aaron Paul sebagai Nyx Ulric yang cepat tanggap dan bersifat ksatria, Lena Headey sebagai Puteri Lunafreya yang tabah dan setia pada tugasnya, dan Sean Bean sebagai Raja Regis yang berkepala dingin dan kharismatik. Pengisi suara tokoh-tokoh lainnya juga menunjukkan akting yang bagus, sehingga penonton dapat lebih terhubung ke setiap tokoh ceritanya.
![]() |
| Sumber gambar: Game Informer |
Latar cerita "Kingsglaive: Final Fantasy XV" juga patut mendapat sorotan tersendiri. Alih-alih menggunakan latar bernuansa Abad Pertengahan seperti kisah fantasi pada umumnya seperti trilogi "Lord of the Rings" (Peter Jackson, 2001-2003), "Kingsglaive" menggunakan latar dunia modern--dengan penggambaran Insomnia sebagai kota metropolis lengkap dengan jalan tol, kendaraan bermotor, dan gedung-gedung bertingkat--ditambah unsur fantasi seperti ilmu sihir dan monster. Dengan apiknya "Kingsglaive: Final Fantasy XV" berhasil menyatukan unsur fantasi dan unsur modernitas, menjadikannya salah satu karya ber-subgenre urban fantasy yang berkualitas.
![]() |
| Sumber gambar: Japanator |
Tidak seperti "Final Fantasy: The Spirits Within" yang merupakan film yang baik tapi kurang terasa seperti Final Fantasy, ataupun "Final Fantasy VII: Advent Children" yang plotnya hanya bisa diikuti oleh gamer yang telah menyelesaikan Final Fantasy VII (Squaresoft, 1997), "Kingsglaive: Final Fantasy XV" dapat diikuti oleh semua penonton baik yang merupakan penggemar seri Final Fantasy maupun penonton awam. Bagi para penggemar setia Final Fantasy, "Kingsglaive" dapat memberikan landasan kokoh untuk memahami keseluruhan kisah Final Fantasy XV selanjutnya dalam format video game. Sementara bagi penonton awam, "Kingsglaive" dapat menjadi hiburan yang padat, memicu pikiran, dan penuh aksi serta efek visual yang enak dipandang.
Saya pribadi berharap, setelah "Kingsglaive" ini akan bermunculan film-film adaptasi game dengan kualitas yang semakin baik dan membongkar stigma lama bahwa film adaptasi video game selalu buruk.
Skor: 9/10




Tidak ada komentar:
Posting Komentar