Selasa, 23 Agustus 2016

Resensi "Kingsglaive: Final Fantasy XV" - Sebuah Fantasi Modern

Sumber gambar: IMDb

Sutradara              : Takeshi Nozue
Produser               : Hajime Tabata
Penulis Skenario   : Takashi Hasegawa
Komposer Musik   : John R. Graham, Yoko Shimomura
Studio Produksi     : Square Enix
Distributor             : Square Enix, Sony Pictures
Pemain                  : Aaron Paul, Lena Headey, Sean Bean, dkk.

Genre                     : Fantasi, aksi, animasi
Durasi                    : 110 menit
Tanggal Rilis         : 19 Agustus 2016 (Amerika Serikat)

Dalam sebuah kesempatan yang cukup jarang, akhirnya saya bisa menyaksikan "Kingsglaive: Final Fantasy XV". Ini adalah film layar lebar ketiga yang diadaptasi dari serial video game Final Fantasy (Squaresoft/Square Enix, 1987-sekarang) setelah "Final Fantasy: The Spirits Within" (2001) dan "Final Fantasy VII: Advent Children" (2005). "Kingsglaive: Final Fantasy XV" merupakan kisah prekuel dari video game Final Fantasy XV yang akan dirilis November tahun ini di konsol PlayStation 4.

Alkisah, tersebutlah sebuah Kristal yang merupakan inti energi magis di dunia. Selama berabad-abad, Kerajaan Lucis yang pendamai melindungi Sang Kristal. Namun di sisi lain, Kekaisaran Niflheim dengan kemajuan teknologi militer dan Magitek (mesin sihir) yang dimilikinya, berusaha merenggut Kristal tersebut. Akibatnya, terjadi pertempuran tak berkesudahan antara dua kerajaan besar itu, dan kerajaan-kerajaan kecil jatuh pada tangan besi Niflheim. Sebagai langkah terakhir, Raja Lucis meminjam kekuatan Kristal untuk mendirikan Tembok Magis Raksasa untuk melindungi seluruh Kerajaan Lucis dari gempuran Niflheim. Pertempuran panjang antar kedua kerajaan itu pun usai.


Sumber gambar: Final Fantasy Union
Berabad-abad kemudian, di masa kini, Kerajaan Lucis dipimpin oleh Raja Regis Lucis Caelum CXIII (Sean Bean). Masyarakat Lucis--terutama yang tinggal di Insomnia, ibukota Lucis--hidup dengan damai, namun Kekaisaran Niflheim yang militeristik memulai kembali invasinya terhadap para sekutu dan wilayah Lucis sendiri. Pasukan militer Lucis, termasuk pasukan khusus yang disebut 'Kingsglaive', mulai kewalahan membendung serbuan Niflheim. Wilayah Lucis pun takluk satu per satu. Kemudian Niflheim menawarkan perjanjian damai pada Lucis dengan dua syarat: seluruh wilayah Lucis kecuali Insomnia harus diserahkan pada Niflheim, dan pangeran Noctis Lucis Caelum harus dinikahkan dengan puteri Lunafreya Nox Fleuret (Lena Headey) dari kerajaan Tenebrae--mantan sekutu Lucis yang kini ditaklukkan Niflheim. Melihat situasi kerajaannya yang semakin terdesak, dengan sangat terpaksa Raja Regis menerima perjanjian damai tersebut. Keputusan ini mengakibatkan kekecewaan banyak orang, termasuk perpecahan antara anggota Kingsglaive sendiri. Namun, Nyx Ulric (Aaron Paul), seorang anggota senior Kingsglaive, mencium hal yang tidak beres di balik perjanjian damai tersebut. Ia pun melakukan tindakan untuk mengetahuinya. Apakah Nyx Ulric dan kawan-kawannya mampu menguak konspirasi tersebut dan melindungi Kerajaan Lucis?

Satu hal yang akan langsung tampak menonjol di film ini adalah kualitas visualnya. Animasi CGI yang tampak sangat hidup, sehingga kenampakan tokoh-tokoh "Kingsglaive" serasa sangat manusiawi--mulai dari gerak-gerik sampai ekspresi wajah dalam detail terkecilnya. Visualisasi adegan laga dalam film ini juga luar biasa layaknya film blockbuster, meskipun penonton mungkin agak kesulitan mengikutinya karena aksi pertarungan yang sangat cepat.

Sumber gambar: Siliconera
Plot padat yang sarat akan intrik politik kerajaan a la "Game of Thrones" disajikan dengan baik dalam durasi 110 menit. Tentu saja penonton harus fokus penuh jika ingin memahami plot dan latarnya. Namun bagi penonton yang kurang tertarik dengan plotnya masih dapat terpuaskan dengan apiknya visualisasi serta adegan aksi yang ditampilkan.

Akting para pengisi suara yang prima turut memberikan kekuatan pada "Kingsglaive". Aaron Paul sebagai Nyx Ulric yang cepat tanggap dan bersifat ksatria, Lena Headey sebagai Puteri Lunafreya yang tabah dan setia pada tugasnya, dan Sean Bean sebagai Raja Regis yang berkepala dingin dan kharismatik. Pengisi suara tokoh-tokoh lainnya juga menunjukkan akting yang bagus, sehingga penonton dapat lebih terhubung ke setiap tokoh ceritanya.

Sumber gambar: Game Informer

 Latar cerita "Kingsglaive: Final Fantasy XV" juga patut mendapat sorotan tersendiri. Alih-alih menggunakan latar bernuansa Abad Pertengahan seperti kisah fantasi pada umumnya seperti trilogi "Lord of the Rings" (Peter Jackson, 2001-2003), "Kingsglaive" menggunakan latar dunia modern--dengan penggambaran Insomnia sebagai kota metropolis lengkap dengan jalan tol, kendaraan bermotor, dan gedung-gedung bertingkat--ditambah unsur fantasi seperti ilmu sihir dan monster. Dengan apiknya "Kingsglaive: Final Fantasy XV" berhasil menyatukan unsur fantasi dan unsur modernitas, menjadikannya salah satu karya ber-subgenre urban fantasy yang berkualitas.

Sumber gambar: Japanator

Tidak seperti "Final Fantasy: The Spirits Within" yang merupakan film yang baik tapi kurang terasa seperti Final Fantasy, ataupun "Final Fantasy VII: Advent Children" yang plotnya hanya bisa diikuti oleh gamer yang telah menyelesaikan Final Fantasy VII (Squaresoft, 1997), "Kingsglaive: Final Fantasy XV" dapat diikuti oleh semua penonton baik yang merupakan penggemar seri Final Fantasy maupun penonton awam. Bagi para penggemar setia Final Fantasy, "Kingsglaive" dapat memberikan landasan kokoh untuk memahami keseluruhan kisah Final Fantasy XV selanjutnya dalam format video game. Sementara bagi penonton awam, "Kingsglaive" dapat menjadi hiburan yang padat, memicu pikiran, dan penuh aksi serta efek visual yang enak dipandang.

Saya pribadi berharap, setelah "Kingsglaive" ini akan bermunculan film-film adaptasi game dengan kualitas yang semakin baik dan membongkar stigma lama bahwa film adaptasi video game selalu buruk.

Skor: 9/10





Rabu, 17 Agustus 2016

Resensi "Tiga Dara" - Harta Karun Sinema Klasik Indonesia

Sumber Gambar: IMDb

Sutradara               : Usmar Ismail
Komposer Musik    : Sjaiful Bachri
Studio Produksi      : PT. PERFINI Films; Restorasi digital oleh PT. Render Digital Indonesia
Tanggal Rilis          : Tahun 1956; 11 Agustus 2016 (edisi restorasi)
Genre                    : Drama musikal
Pemain                  : Chitra Dewi, Mieke Wijaya, Indriati Iskak, Fifi Young, Bambang Irawan, dkk.


Sedikit membuka memori lampau, saya pernah menyaksikan film ini pada peringatan ulang tahun Kota Surabaya dua tahun silam (31 Mei 2014). Selain sebagai apresiasi sinema klasik, pemutaran "Tiga Dara" waktu itu juga sebagai apresiasi atas Indriati Iskak--salah satu pemeran utamanya--yang juga adalah seorang arek Suroboyo. Ketika muncul kabar bahwa film "Tiga Dara" direstorasi dan ditayangkan di bioskop-bioskop terpilih, seketika muncul dorongan untuk menontonnya kembali. Bersama tulisan ini, saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang terlibat dalam restorasi "Tiga Dara" ini, yang telah mencurahkan segenap waktu dan tenaga untuk menggali kembali salah satu harta karun dalam bumi sinema Indonesia.

"Tiga Dara" mengisahkan tiga bersaudari Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Wijaya), dan Nenny (Indriati Iskak) yang tinggal bersama sang ayah dan sang nenek (Fifi Young). Ketiga saudari ini memiliki sifat khas masing-masing: Nunung putri tertua yang telaten, Nana putri kedua yang luwes bergaul,  Nenny putri bungsu yang jahil dan cerdik. Cerita diawali dari ulang tahun Nunung yang ke-29. Sang nenek merasa sangat kebingungan sebab si putri tertua tak kunjung mendapat jodoh. Sifat Nunung yang agak kaku pun semakin mempersulit masalah. Sang nenek beserta seluruh keluarga pun menyusun rencana agar Nunung segera mendapat jodoh. Namun, salah satu adik Nunung sendiri malah menjadi faktor penghambat dalam keberhasilan rencana tersebut. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Nunung akan mendapatkan tambatan hati?

Sumber Gambar: Wikipedia
Sekilas premis film ini terlihat klise di zaman sekarang. Namun penulis cerita dan skenario--sayang sekali namanya lupa saya catat di kredit film--mampu meramunya dengan apik. Tidak seperti roman picisan, "Tiga Dara" mampu menyajikan konflik cinta segitiga dalam balutan persaingan antarsaudari dengan sangat menarik. Cinta segitiga itu pun akhirnya 'bertabrakan' juga dengan rangkaian peristiwa-peristiwa lainnya yang tak terduga, sehingga hasil akhirnya jauh dari klise.

Masing-masing pemain, khususnya ketiga pemeran yang jadi sorotan utama, berhasil membawakan perannya dengan sangat baik. Chitra Dewi sebagai Nunung yang pengayom tapi agak keras hati, Mieke Wijaya sebagai Nana yang kelewat pandai bergaul, Indriati Iskak sebagai si bungsu Nenny yang centil, cerdik, dan pandai membaca situasi--ketiganya merupakan nyawa yang menjadikan film ini sangat hidup.

Selain peran ketiga aktris utama, lagu-lagu pengisi film ini juga tak kalah penting. Lagu-lagu pilihan lintas genre dari Indonesia era 50-an--yang beberapa di antaranya adalah ciptaan Ismail Marzuki, tidak hanya sebagai pemanis adegan saja tapi juga tulang belakang dari film ini. Adegan-adegan musikalnya pun disajikan dalam berbagai gaya: ada yang bernuansa khas Melayu, ada yang bernuansa kebaratan, ada pula yang tersentuh gaya musikal India.


Sumber Gambar: The Jakarta Post

Secara keseluruhan, "Tiga Dara" adalah film apik yang membawa kita menyelami suasana klasik Indonesia dengan kekuatan musikalnya. Tapi saya cukup menyayangkan betapa sedikitnya penonton yang hadir dalam teater saat saya menonton film ini. Apa pun yang terjadi selanjutnya, saya harap itu tidak akan menyurutkan semangat insan film Indonesia untuk tetap mengapresiasi karya-karya klasiknya, yang tentu dapat menjadi referensi untuk menciptakan karya-karya yang lebih baik lagi ke depannya.

Maju terus perfilman Indonesia!

Skor: 8,8/10

Sabtu, 13 Agustus 2016

Resensi "The Beginning of Life" - Anak-anak sebagai Awal dan Penerus Kehidupan





Sutradara: Estela Renner
Penulis Skenario: Estela Renner
Studio Produksi: Maria Farinha Filmes
Tanggal Rilis: 5 Mei 2016 (Brazil)



Hari Minggu lalu (7 Agustus 2016), saya mendapat kesempatan untuk menonton sebuah film yang tidak beredar di bioskop sini. Film tersebut adalah "The Beginning of Life", yang diputar pada suatu kesempatan di Kafe Baca Ceria (Kabaca). Kabaca sendiri adalah taman baca umum yang terletak di Wisma Penjaringan Sari F-7, Kecamatan Rungkut, Surabaya. Misi dari Kabaca sendiri adalah meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat sekitar, terutama anak-anak. Selain sebagai tempat membaca dan menyewa berbagai jenis buku, Kabaca juga rajin mengadakan kegiatan yang mendidik untuk anak-anak dan masyarakat di sekitarnya.

"The Beginning of Life" adalah sebuah film dokumenter yang memotret salah satu fase awal kehidupan manusia, yaitu fase kanak-kanak. Dalam film ini, bisa disaksikan kehidupan anak-anak yang polos dan penuh keingintahuan. Berbagai narasumber dengan pelbagai disiplin ilmu juga turut memberikan pendapat mereka tentang anak-anak, mulai dari segi psikologi, pendidikan, pola asuh (parenting), sampai ekonomi. Sinematografi yang indah dan apik mampu membuat kita melihat dunia anak-anak secara sangat dekat, bahkan sampai terlarut ke dalamnya. Kegiatan produksi yang dilakukan di 8 negara membuat "The Beginning of Life" mampu memberikan gambaran global tentang topik utama yang diangkat. Film ini banyak menampilkan sisi terang dan keindahan dari dinamika hidup anak dan keluarga, namun juga menunjukkan sisi yang kurang ideal sebagai penyeimbang, misalnya keluarga yang hidup di kawasan miskin, orangtua tunggal, keluarga homoseksual, dan bahkan anak-anak yang tidak memiliki orangtua.

Dalam film yang juga disponsori UNICEF ini, Estela Renner dkk. nampaknya ingin meningkatkan kesadaran orang-orang akan pentingnya dunia anak-anak. Tidak bisa dipungkiri, anak-anak merupakan elemen penting dalam kelangsungan umat manusia. Dengan menjaga dunia anak-anak, maka secara tidak langsung kita juga akan mencetak orang-orang dewasa yang baik di masyarakat, sehingga pendidikan dan pengasuhan anak-anak adalah sesuatu yang sangat tidak bisa diabaikan. Dan dalam hal ini bukan hanya keluarga yang berperan, namun juga masyarakat. Dengan menjaga anak-anak, maka kita menjaga masa depan.

"The Beginning of Life" mengajarkan kita banyak hal. Beberapa di antaranya adalah pola pikir anak-anak, cara belajar anak-anak, gambaran cara parenting yang baik, dsb. Namun poin-poin ini tidak dipaksakan begitu saja ke dalam benak penonton. Sebaliknya, penonton diajak untuk mengambil pelajaran sendiri dari serangkaian fenomena yang didokumentasikan dalam film ini.

Suasana pemutaran "The Beginning of Life" di Kabaca

Sayangnya, film ini terlalu general. Ia mencakup hal yang sangat luas, sehingga melewatkan beberapa hal yang sebenarnya masih termasuk dalam topik utama dan tidak kalah penting, misalnya tentang anak-anak berkebutuhan khusus. Namun kekurangan tersebut tidak akan sampai membuat penonton merasa terganggu dan keberatan melihat kelucuan polah anak-anak, dan memetik pelajaran, dari "The Beginning of Life."

Skor: 7,7/10