Sabtu lalu (16 Juli 2016), saya berkesempatan hadir di acara pemutaran film indie bertajuk Movie Night Special yang bertempat di Brum Stove & Pan Cafe, Jl. Ilmu Pasti Alam F-12, Perumdos ITS, Surabaya. Acara berlangsung mulai pukul 19.30 hingga sekitar pukul 22.30. Selama tiga jam, diputar 9 film pendek hasil karya komunitas-komunitas film di Surabaya maupun luar Surabaya. Idealnya, acara pemutaran dibagi menjadi 2 sesi di mana sesi pertama adalah untuk film-film dari Surabaya dan sesi kedua untuk film-film tamu dari komunitas luar Surabaya, dengan diskusi singkat di akhir tiap sesi. Namun dikarenakan kendala teknis, urutan film yang ditayangkan dan pembagian sesinya tidak bisa berjalan sesuai rencana awal. Meski demikian, hal itu tidak begitu mengganggu jalannya pemutaran maupun apresiasi dan diskusi atas film-film pendek yang diputar.
Film pembuka acara pemutaran ini adalah 'Lebaran: Berkah Silaturahmi' produksi Pooreque Squad dari UKM Sinematografi Unair. Sebuah film pendek bertemakan silaturahmi menjelang lebaran yang berakhir dengan absurd. Seorang laki-laki mengunjungi temannya untuk bersilaturahmi dan bermaafan. Ketika temannya tersebut mengetahui bahwa dia tidak punya banyak uang, ia membantunya dengan menggandakan uangnya memakai program komputer. Memang ide ceritanya aneh dan eksperimental, tapi yang penting pesannya tersampaikan: bahwa dengan ber-silaturahmi dan saling berbuat kebaikan akan dapat mendatangkan berkah.
Kemudian dilanjutkan oleh 'Layang Melayang' produksi Kinne Komunikasi UPN. Bercerita tentang sekawanan anak-anak yang bermain layang-layang. Ketika salah satu layangan mereka putus, mereka lari mengejarnya dan meninggalkan layangan yang masih utuh. Layangan yang masih utuh itu pun akhirnya diambil orang. Film ini adalah film tugas yang dibuat berdasarkan observasi sutradaranya atas anak-anak ketika bermain layang-layang. Tapi demi memenuhi tenggat pengumpulan, beberapa adegan terpaksa dikorbankan (tidak sempat diproduksi), sehingga dalam film ini terdapat lompatan adegan yang cukup mengganggu kesinambungan ceritanya.
Yang ketiga adalah 'Si Pencari Tuhan' karya STD Production. Bercerita tentang seorang penulis buku yang sedang menuliskan kisah masa lalunya semasa SMA. Kehidupan anak SMA dengan segala warnanya ditampilkan dalam kilas balik, mulai dari masa orientasi siswa, pelajaran di kelas (yang membosankan), indahnya berpacaran, dan lain-lain. Sang penulis tidak menyukai kehidupan sekolahnya sehingga ia memilih lari, bermusik dalam band, dan melanggar aturan-aturan lainnya. Sampai suatu ketika dia merasa hidupnya kosong dan sepi. Hal ini diperparah dengan ketidakhadiran kedua orangtuanya yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Di sinilah terjadi titik balik di mana sang penulis mulai mencari Tuhan dan menjadi orang yang lebih spiritual. Memadukan flash back dengan flash forward, permainan efek kamera dalam film ini sangat patut diacungi jempol.
Kemudian ada sesi diskusi untuk ketiga film tadi. Diskusi berlangsung cukup interaktif. Beberapa penonton mengajukan pertanyaan pada perwakilan tim produksi ketiga film itu, dan terjawab dengan cukup memuaskan. Setelah diskusi selesai, dilanjutkan dengan pemutaran film tamu.
'Gasing Gersang' karya Ruang Gerak AV klub Ikom UMM menjadi film tamu pertama sekaligus film keempat yang diputar. Sebuah dokumenter sederhana tentang seorang penjual mainan tradisional di alun-alun kota Batu. Meski pekerjaan utamanya adalah bertani, ia tetap menyempatkan diri untuk berjualan mainan tradisional untuk tambahan penghasilan demi pendidikan anak-anaknya. Menjadi miris ketika kita melihat bahwa sekarang anak-anak lebih senang bermain gawai/gadget ketimbang permainan tradisional. Meski dibuat sebagai tugas dalam periode yang sangat singkat--hanya setengah hari, 'Gasing Gersang' cukup mampu membawa penonton mengamati sekaligus merasakan secuil kisah hidup penjual mainan tradisional yang berusaha tetap bertahan meski tergerus arus modernitas.
Dilanjutkan dengan 'Yang Terdalam' produksi Kamisinema ISI Yogyakarta. Mengangkat topik yang cukup berani, yaitu romansa antara seorang pria dengan seorang waria, film pendek ini otomatis menjadi film yang paling menyita perhatian penonton di acara pemutaran ini. Berkisah tentang Laura, seorang waria yang berusaha merawat kekasihnya yang sedang sakit keras. Segala upaya dilakukan demi kesembuhan sang kekasih, sampai Laura sendiri terpaksa terlibat bisnis narkotika. Secara teknis visual bisa dibilang film ini tidak semeriah film lainnya, tapi kemampuannya menyampaikan cerita dalam adegan sangatlah luar biasa.
Kemudian ada film pendek berjudul 'Laut Dan Makhluknya Yang Menenggelamkan' karya LFM ITB. Mengisahkan sepasang muda-mudi yang sedang bersantai di pantai. Tiba-tiba seorang perempuan asing muncul dan mengajak si pemuda ngobrol tentang keindahan pantai. Tak dinyana, si perempuan asing langsung mengajak si pemuda ke tengah laut dan tak kembali lagi. Si gadis yang kini sendirian, tiba-tiba didatangi sosok pemuda gagah yang datang dari tengah laut. Film ini merupakan satu interpretasi fenomena mistik yang digarap dengan gaya realistis, dengan hasil akhir yang sangat menarik.
Film selanjutnya adalah 'Angan' yang juga karya LFM ITB. Sebuah film pendek sederhana berisikan dua orang saja, dengan cerita yang tak kalah sederhana: seorang cowok berusaha menghibur ceweknya yang cemberut. Dengan adanya film 'Angan' di tengah-tengah film indie dengan ide yang unik dan seringkali kompleks, seolah menyiratkan bahwa kesederhanaan pun bisa menjadi kekuatan.
Setelah itu dilanjutkan sesi diskusi lagi, yang berjalan sama aktifnya seperti sesi diskusi sebelumnya.
Kemudian dilanjutkan pemutaran film pendek berjudul 'Ir. Soemarno' dari JCM Kine Klub UIN Sunan Kalijaga Jogja. Sebuah film pendek bertema nasionalisme dengan sedikit sentilan satiris, momen diputarnya film ini cukup pas sebagai renungan menyambut Hari Kemerdekaan bulan depan. Bercerita tentang Soemarno, yang ditunjuk oleh lurahnya untuk membacakan teks Proklamasi pada malam tirakatan kemerdekaan. Meski secara penampilan sudah mirip Bung Karno, Soemarno masih merasa belum cukup pantas untuk membacakan teks bersejarah itu. Si lurah tetap bersikeras, dan berkata bahwa acara tirakatan itu sudah 'dibiayai negara'. Setelah twist unik yang mengaburkan batas antara dunia mimpi dan realitas, acara malam tirakatan itu pun dimulailah. Soemarno dengan tegap dan lantang, alih-alih membacakan teks proklamasi, ia membacakan anggaran dana acara malam tirakatan yang sudah penuh dengan mark-up hingga semua hadirin mendengar. Sebuah film yang sangat apik, dengan kualitas akting yang sangat jauh melebihi film-film lain yang diputar di acara ini.
Dan sebagai penutup, diputarlah film pendek 'Di Bioskop' produksi kolaborasi antara GSM Production dan Click ITS. Sebuah film pendek komedi yang bercerita tentang seorang pemuda yang sedang nongkrong di angkringan bersama temannya. Si pemuda menceritakan pengalaman-pengalaman konyolnya saat menonton bioskop bersama pacarnya. Salah satunya adalah ketika mereka menonton film 'Surga Yang Tak Dirindukan' (Kuntz Agus, 2015). Penonton mengantri di depan pintu studio, sampai seorang perempuan gemuk berlari menerobos antrian dan bertanya pada si penjaga studio, "Mas, surganya sudah penuh?" (Spontan, si penjaga studio pun menjelma malaikat penjaga surga). Itu hanya satu dari banyak cerita lucu yang disampaikan film ini. 'Di Bioskop' dibuat berdasarkan pengalaman pribadi sutradaranya, dan dengan teknik visualisasi yang apik plus dialek dan guyonan suroboyoan, film ini sukses mengundang tawa semua penonton yang hadir.
Setelah sesi diskusi bersama perwakilan tim produksi 'Di Bioskop' dan 'Ir. Soemarno', acara pemutaran ini pun resmi berakhir. Melihat betapa apiknya karya-karya para filmmaker muda ini--dan keberanian mereka dalam berkarya sangat luar biasa, saya yakin ke depannya perfilman Indonesia akan jauh lebih menarik dibandingkan saat ini.
Maju terus perfilman Indonesia!









Tidak ada komentar:
Posting Komentar