Sabtu, 30 Juli 2016

[Reportase Indie] Provoke! Flick: Focus On Wregas (Surabaya, 29 Juli 2015)


Jumat sore tanggal 29 Juli 2017 di auditorium IFI Surabaya, saya berkesempatan menghadiri pemutaran bertajuk 'Focus on Wregas' yang diadakan oleh redaksi majalah Provoke! Surabaya bekerjasama dengan Institut Francais Surabaya (IFI). Provoke! sendiri adalah majalah anak muda yang memprovokasi dan menyebarkan semangat berkarya secara indie. Pemutaran ini merupakan bagian dari program "Provoke! Flick" yang bertujuan mengenalkan film-film karya anak bangsa yang mencapai prestasi, namun belum banyak diketahui khalayak umum.

Sesuai judulnya, acara ini memutarkan 5 film pendek karya Wregas Bhanuteja. Sutradara muda lulusan Jurusan Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta ini bersama kawan-kawannya dalam Studio Batu telah berhasil mencipta film-film pendek yang diakui baik secara nasional maupun internasional.

Film pertama yang diputar adalah "Senyawa." Film ini merupakan karya pertama Wregas Bhanuteja. Film ini cukup unik dibanding film lain dalam pemutaran ini karena dikerjakan menggunakan film seluloid 16 mm. "Senyawa" mengisahkan sebuah keluarga plural yang terdiri atas ayah beragama Islam, ibu beragama Kristen, dan seorang anak perempuan yang beragama Kristen mengikuti ibunya. Sepeninggal sang ibu, sang anak punya satu keinginan sederhana: menyanyikan dan merekam lagu Ave Maria untuk mendiang sang ibu. Namun keinginan itu harus terganggu suasana kampungnya yang sangat ramai. Di balik kisah sederhana yang penuh kepolosan--baik kepolosan niat sang anak maupun kepolosan warga kampung--kita juga disadarkan bahwa sebagai bangsa yang bhinneka, kita wajib menjaga harmoni kehidupan antar umat.


Film kedua adalah "Lembusura" (The Legend of the Mountain Demon). Lain dengan kisah asli legenda Lembusura sang raksasa penjaga gunung, ini adalah sebuah film eksperimental tentang sekawanan pemuda yang melakukan syuting film dengan tokoh utama Lembusura di tengah-tengah hujan abu Gunung Kelud. Dalam film ini kita menyaksikan suka duka plus kekonyolan suasana syuting film, sekaligus menyaksikan sendiri situasi hujan abu di pemukiman sekitar Gunung Kelud. Cukup kuatnya kontras yang ditampilkan dalam film ini, dapat membuat kita jadi tertawa terbahak-bahak sekaligus berempati pada musibah yang dialami sesama. Film "Lembusura" pernah berlaga dalam Festival Film Berlin 2015.


Film ketiga adalah "The Floating Chopin," yang pernah tampil dalam Festival Film Hong Kong 2016. Mengisahkan sepasang kekasih yang berlibur di sebuah pantai perawan. Sang pria baru saja kembali dari Paris. Ia pun menceritakan pengalaman-pengalamannya pada kekasihnya, salah satunya tentang makam komposer Frederic Chopin. Sebagai refleksi perjalanannya, sang pria minta difoto sebagai Chopin. The Floating Chopin adalah sebuah drama artistik yang pesannya hanya bisa ditafsirkan oleh penonton sendiri. Sebagai lagu tema, "Chopin Larung" karya Guruh Soekarno Putra diangkat dalam film ini.

Film keempat adalah "Lemantun" (The Third Cupboard). Diangkat dari pengalaman hidup keluarga Wregas sendiri, film ini bercerita tentang seorang ibu yang mengumpulkan kelima anaknya, yang masing-masing kemudian diberikan warisan berupa almari. Dalam film ini kita bisa menyaksikan interaksi khas keluarga Jawa dan sebuah potret hubungan kekeluargaan. Melalui akting yang apik, karakterisasi semua tokoh terutama kelima anak tersebut terasa nampak kekhasannya, seperti kita melihat kekhasan sifat masing-masing tokoh dalam "12 Angry Men" (Sydney Lumet, 1957). Lewat film pemenang XXI Short Film Festival 2015 ini, kita diajak untuk merenungkan kembali makna sejati keluarga.

Film terakhir adalah Prenjak (In The Year Of The Monkey). Sebuah sajian penutup yang besar, mengingat film Prenjak ini telah memenangkan kompetisi di Semaine de la Critique (Pekan Kritikus) dalam Festival Film Cannes 2016 belum lama ini. "Prenjak" mengisahkan seorang wanita pekerja di sebuah rumah makan, yang sedang sangat membutuhkan tambahan uang. Ia pun menjual korek api pada rekan sekerjanya yang laki-laki, dengan harga sangat mahal per batang korek apinya. Ternyata dengan sebatang korek api yang mahal itu, si pria diperbolehkan melihat kelamin si wanita selama api koreknya masih menyala. Meskipun mengandung nudity (ketelanjangan) serta unsur voyeurisme, "Prenjak" bukanlah film tentang nafsu dan seksualitas yang dangkal. Meski kisahnya sederhana, "Prenjak" mampu bercerita lebih kuat daripada film-film sebelumnya. Dan tentu saja ada hikmah baik yang bisa kita baik dari film ini. Salah satunya yang bisa saya petik adalah ketulusan perjuangan seorang ibu demi menghidupi anaknya. Sebuah kesederhanaan dengan kisah yang kuat dan menggugah, pantaslah "Prenjak" ini mendapatkan pengakuannya di tingkat dunia.

Seusai pemutaran, diadakan sesi tanya jawab dengan Wregas Bhanuteja sendiri via telepon. Penonton sangat antusias untuk bertanya. Cukup banyak pertanyaan yang diajukan, misalnya filosofi di balik judul Prenjak, apa saran Wregas untuk para filmmaker indie, apa proyek film yang sedang digarap Wregas dkk. sekarang, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sayangnya tidak bisa saya ingat sepenuhnya. Untuk filosofi judul film Prenjak, nama prenjak sendiri adalah sejenis burung yang tidak mau bersiul jika tak ada pasangannya, dan Wregas juga menambahkan bahwa praktik "wanita penjual korek api" itu nyata adanya di Yogya sekitar tahun 1990-an. Sebagai saran untuk para filmmaker indie, Wregas berkata, "Turuti kata hatimu dan jangan bohongi dirimu sendiri." Kata-katanya menegaskan bahwa para filmmaker seyogyanya berkreasi dari kecintaannya akan film dan dorongan hatinya, bukan karena tekanan, paksaan, atau hal lain. Untuk proyek film ke depannya, Wregas menyatakan bahwa dia ingin membuat film panjang. Ucapan selamat dari direktur IFI Surabaya kepada Wregas atas keberhasilannya di Festival Film Cannes menjadi penutup sesi tanya jawab ini, sekaligus penutup acara.

Mengulang kalimat Wregas, turutilah kata hati dan jangan bohongi dirimu sendiri dalam berkarya. Melihat sutradara muda sehebat Wregas Bhanuteja, saya yakin akan banyak bermunculan bakat-bakat baru yang akan mengubah wajah dunia perfilman Indonesia ke depannya.

Maju terus perfilman Indonesia!

Minggu, 17 Juli 2016

Reportase Indie: Movie Night 'Special' 2016 Surabaya




Sabtu lalu (16 Juli 2016), saya berkesempatan hadir di acara pemutaran film indie bertajuk Movie Night Special yang bertempat di Brum Stove & Pan Cafe, Jl. Ilmu Pasti Alam F-12, Perumdos ITS, Surabaya. Acara berlangsung mulai pukul 19.30 hingga sekitar pukul 22.30. Selama tiga jam, diputar 9 film pendek hasil karya komunitas-komunitas film di Surabaya maupun luar Surabaya. Idealnya, acara pemutaran dibagi menjadi 2 sesi di mana sesi pertama adalah untuk film-film dari Surabaya dan sesi kedua untuk film-film tamu dari komunitas luar Surabaya, dengan diskusi singkat di akhir tiap sesi. Namun dikarenakan kendala teknis, urutan film yang ditayangkan dan pembagian sesinya tidak bisa berjalan sesuai rencana awal. Meski demikian, hal itu tidak begitu mengganggu jalannya pemutaran maupun apresiasi dan diskusi atas film-film pendek yang diputar.

Film pembuka acara pemutaran ini adalah 'Lebaran: Berkah Silaturahmi' produksi Pooreque Squad dari UKM Sinematografi Unair. Sebuah film pendek bertemakan silaturahmi menjelang lebaran yang berakhir dengan absurd. Seorang laki-laki mengunjungi temannya untuk bersilaturahmi dan bermaafan. Ketika temannya tersebut mengetahui bahwa dia tidak punya banyak uang, ia membantunya dengan menggandakan uangnya memakai program komputer. Memang ide ceritanya aneh dan eksperimental, tapi yang penting pesannya tersampaikan: bahwa dengan ber-silaturahmi dan saling berbuat kebaikan akan dapat mendatangkan berkah. 



Kemudian dilanjutkan oleh 'Layang Melayang' produksi Kinne Komunikasi UPN. Bercerita tentang sekawanan anak-anak yang bermain layang-layang. Ketika salah satu layangan mereka putus, mereka lari mengejarnya dan meninggalkan layangan yang masih utuh. Layangan yang masih utuh itu pun akhirnya diambil orang. Film ini adalah film tugas yang dibuat berdasarkan observasi sutradaranya atas anak-anak ketika bermain layang-layang. Tapi demi memenuhi tenggat pengumpulan, beberapa adegan terpaksa dikorbankan (tidak sempat diproduksi), sehingga dalam film ini terdapat lompatan adegan yang cukup mengganggu kesinambungan ceritanya.

Yang ketiga adalah 'Si Pencari Tuhan' karya STD Production. Bercerita tentang seorang penulis buku yang sedang menuliskan kisah masa lalunya semasa SMA. Kehidupan anak SMA dengan segala warnanya ditampilkan dalam kilas balik, mulai dari masa orientasi siswa, pelajaran di kelas (yang membosankan), indahnya berpacaran, dan lain-lain. Sang penulis tidak menyukai kehidupan sekolahnya sehingga ia memilih lari, bermusik dalam band, dan melanggar aturan-aturan lainnya. Sampai suatu ketika dia merasa hidupnya kosong dan sepi. Hal ini diperparah dengan ketidakhadiran kedua orangtuanya yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Di sinilah terjadi titik balik di mana sang penulis mulai mencari Tuhan dan menjadi orang yang lebih spiritual. Memadukan flash back dengan flash forward, permainan efek kamera dalam film ini sangat patut diacungi jempol.


Kemudian ada sesi diskusi untuk ketiga film tadi. Diskusi berlangsung cukup interaktif. Beberapa penonton mengajukan pertanyaan pada perwakilan tim produksi ketiga film itu, dan terjawab dengan cukup memuaskan. Setelah diskusi selesai, dilanjutkan dengan pemutaran film tamu. 

'Gasing Gersang' karya Ruang Gerak AV klub Ikom UMM menjadi film tamu pertama sekaligus film keempat yang diputar. Sebuah dokumenter sederhana tentang seorang penjual mainan tradisional di alun-alun kota Batu. Meski pekerjaan utamanya adalah bertani, ia tetap menyempatkan diri untuk berjualan mainan tradisional untuk tambahan penghasilan demi pendidikan anak-anaknya. Menjadi miris ketika kita melihat bahwa sekarang anak-anak lebih senang bermain gawai/gadget ketimbang permainan tradisional. Meski dibuat sebagai tugas dalam periode yang sangat singkat--hanya setengah hari, 'Gasing Gersang' cukup mampu membawa penonton mengamati sekaligus merasakan secuil kisah hidup penjual mainan tradisional yang berusaha tetap bertahan meski tergerus arus modernitas.


Dilanjutkan dengan 'Yang Terdalam' produksi Kamisinema ISI Yogyakarta. Mengangkat topik yang cukup berani, yaitu romansa antara seorang pria dengan seorang waria, film pendek ini otomatis menjadi film yang paling menyita perhatian penonton di acara pemutaran ini. Berkisah tentang Laura, seorang waria yang berusaha merawat kekasihnya yang sedang sakit keras. Segala upaya dilakukan demi kesembuhan sang kekasih, sampai Laura sendiri terpaksa terlibat bisnis narkotika. Secara teknis visual bisa dibilang film ini tidak semeriah film lainnya, tapi kemampuannya menyampaikan cerita dalam adegan sangatlah luar biasa.


Kemudian ada film pendek berjudul 'Laut Dan Makhluknya Yang Menenggelamkan' karya LFM ITB. Mengisahkan sepasang muda-mudi yang sedang bersantai di pantai. Tiba-tiba seorang perempuan asing muncul dan mengajak si pemuda ngobrol tentang keindahan pantai. Tak dinyana, si perempuan asing langsung mengajak si pemuda ke tengah laut dan tak kembali lagi. Si gadis yang kini sendirian, tiba-tiba didatangi sosok pemuda gagah yang datang dari tengah laut. Film ini merupakan satu interpretasi fenomena mistik yang digarap dengan gaya realistis, dengan hasil akhir yang sangat menarik.


Film selanjutnya adalah 'Angan' yang juga karya LFM ITB. Sebuah film pendek sederhana berisikan dua orang saja, dengan cerita yang tak kalah sederhana: seorang cowok berusaha menghibur ceweknya yang cemberut. Dengan adanya film 'Angan' di tengah-tengah film indie dengan ide yang unik dan seringkali kompleks, seolah menyiratkan bahwa kesederhanaan pun bisa menjadi kekuatan.


Setelah itu dilanjutkan sesi diskusi lagi, yang berjalan sama aktifnya seperti sesi diskusi sebelumnya. 

Kemudian dilanjutkan pemutaran film pendek berjudul 'Ir. Soemarno' dari JCM Kine Klub UIN Sunan Kalijaga Jogja. Sebuah film pendek bertema nasionalisme dengan sedikit sentilan satiris, momen diputarnya film ini cukup pas sebagai renungan menyambut Hari Kemerdekaan bulan depan. Bercerita tentang Soemarno, yang ditunjuk oleh lurahnya untuk membacakan teks Proklamasi pada malam tirakatan kemerdekaan. Meski secara penampilan sudah mirip Bung Karno, Soemarno masih merasa belum cukup pantas untuk membacakan teks bersejarah itu. Si lurah tetap bersikeras, dan berkata bahwa acara tirakatan itu sudah 'dibiayai negara'. Setelah twist unik yang mengaburkan batas antara dunia mimpi dan realitas, acara malam tirakatan itu pun dimulailah. Soemarno dengan tegap dan lantang, alih-alih membacakan teks proklamasi, ia membacakan anggaran dana acara malam tirakatan yang sudah penuh dengan mark-up hingga semua hadirin mendengar. Sebuah film yang sangat apik, dengan kualitas akting yang sangat jauh melebihi film-film lain yang diputar di acara ini.

Dan sebagai penutup, diputarlah film pendek 'Di Bioskop' produksi kolaborasi antara GSM Production dan Click ITS. Sebuah film pendek komedi yang bercerita tentang seorang pemuda yang sedang nongkrong di angkringan bersama temannya. Si pemuda menceritakan pengalaman-pengalaman konyolnya saat menonton bioskop bersama pacarnya. Salah satunya adalah ketika mereka menonton film 'Surga Yang Tak Dirindukan' (Kuntz Agus, 2015). Penonton mengantri di depan pintu studio, sampai seorang perempuan gemuk berlari menerobos antrian dan bertanya pada si penjaga studio, "Mas, surganya sudah penuh?" (Spontan, si penjaga studio pun menjelma malaikat penjaga surga). Itu hanya satu dari banyak cerita lucu yang disampaikan film ini. 'Di Bioskop' dibuat berdasarkan pengalaman pribadi sutradaranya, dan dengan teknik visualisasi yang apik plus dialek dan guyonan suroboyoan, film ini sukses mengundang tawa semua penonton yang hadir.


Setelah sesi diskusi bersama perwakilan tim produksi 'Di Bioskop' dan 'Ir. Soemarno', acara pemutaran ini pun resmi berakhir. Melihat betapa apiknya karya-karya para filmmaker muda ini--dan keberanian mereka dalam berkarya sangat luar biasa, saya yakin ke depannya perfilman Indonesia akan jauh lebih menarik dibandingkan saat ini.
Maju terus perfilman Indonesia!