Jumat sore tanggal 29 Juli 2017 di auditorium IFI Surabaya, saya berkesempatan menghadiri pemutaran bertajuk 'Focus on Wregas' yang diadakan oleh redaksi majalah Provoke! Surabaya bekerjasama dengan Institut Francais Surabaya (IFI). Provoke! sendiri adalah majalah anak muda yang memprovokasi dan menyebarkan semangat berkarya secara indie. Pemutaran ini merupakan bagian dari program "Provoke! Flick" yang bertujuan mengenalkan film-film karya anak bangsa yang mencapai prestasi, namun belum banyak diketahui khalayak umum.
Sesuai judulnya, acara ini memutarkan 5 film pendek karya Wregas Bhanuteja. Sutradara muda lulusan Jurusan Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta ini bersama kawan-kawannya dalam Studio Batu telah berhasil mencipta film-film pendek yang diakui baik secara nasional maupun internasional.
Film pertama yang diputar adalah "Senyawa." Film ini merupakan karya pertama Wregas Bhanuteja. Film ini cukup unik dibanding film lain dalam pemutaran ini karena dikerjakan menggunakan film seluloid 16 mm. "Senyawa" mengisahkan sebuah keluarga plural yang terdiri atas ayah beragama Islam, ibu beragama Kristen, dan seorang anak perempuan yang beragama Kristen mengikuti ibunya. Sepeninggal sang ibu, sang anak punya satu keinginan sederhana: menyanyikan dan merekam lagu Ave Maria untuk mendiang sang ibu. Namun keinginan itu harus terganggu suasana kampungnya yang sangat ramai. Di balik kisah sederhana yang penuh kepolosan--baik kepolosan niat sang anak maupun kepolosan warga kampung--kita juga disadarkan bahwa sebagai bangsa yang bhinneka, kita wajib menjaga harmoni kehidupan antar umat.
Film kedua adalah "Lembusura" (The Legend of the Mountain Demon). Lain dengan kisah asli legenda Lembusura sang raksasa penjaga gunung, ini adalah sebuah film eksperimental tentang sekawanan pemuda yang melakukan syuting film dengan tokoh utama Lembusura di tengah-tengah hujan abu Gunung Kelud. Dalam film ini kita menyaksikan suka duka plus kekonyolan suasana syuting film, sekaligus menyaksikan sendiri situasi hujan abu di pemukiman sekitar Gunung Kelud. Cukup kuatnya kontras yang ditampilkan dalam film ini, dapat membuat kita jadi tertawa terbahak-bahak sekaligus berempati pada musibah yang dialami sesama. Film "Lembusura" pernah berlaga dalam Festival Film Berlin 2015.
Film ketiga adalah "The Floating Chopin," yang pernah tampil dalam Festival Film Hong Kong 2016. Mengisahkan sepasang kekasih yang berlibur di sebuah pantai perawan. Sang pria baru saja kembali dari Paris. Ia pun menceritakan pengalaman-pengalamannya pada kekasihnya, salah satunya tentang makam komposer Frederic Chopin. Sebagai refleksi perjalanannya, sang pria minta difoto sebagai Chopin. The Floating Chopin adalah sebuah drama artistik yang pesannya hanya bisa ditafsirkan oleh penonton sendiri. Sebagai lagu tema, "Chopin Larung" karya Guruh Soekarno Putra diangkat dalam film ini.
Film terakhir adalah Prenjak (In The Year Of The Monkey). Sebuah sajian penutup yang besar, mengingat film Prenjak ini telah memenangkan kompetisi di Semaine de la Critique (Pekan Kritikus) dalam Festival Film Cannes 2016 belum lama ini. "Prenjak" mengisahkan seorang wanita pekerja di sebuah rumah makan, yang sedang sangat membutuhkan tambahan uang. Ia pun menjual korek api pada rekan sekerjanya yang laki-laki, dengan harga sangat mahal per batang korek apinya. Ternyata dengan sebatang korek api yang mahal itu, si pria diperbolehkan melihat kelamin si wanita selama api koreknya masih menyala. Meskipun mengandung nudity (ketelanjangan) serta unsur voyeurisme, "Prenjak" bukanlah film tentang nafsu dan seksualitas yang dangkal. Meski kisahnya sederhana, "Prenjak" mampu bercerita lebih kuat daripada film-film sebelumnya. Dan tentu saja ada hikmah baik yang bisa kita baik dari film ini. Salah satunya yang bisa saya petik adalah ketulusan perjuangan seorang ibu demi menghidupi anaknya. Sebuah kesederhanaan dengan kisah yang kuat dan menggugah, pantaslah "Prenjak" ini mendapatkan pengakuannya di tingkat dunia.
Seusai pemutaran, diadakan sesi tanya jawab dengan Wregas Bhanuteja sendiri via telepon. Penonton sangat antusias untuk bertanya. Cukup banyak pertanyaan yang diajukan, misalnya filosofi di balik judul Prenjak, apa saran Wregas untuk para filmmaker indie, apa proyek film yang sedang digarap Wregas dkk. sekarang, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sayangnya tidak bisa saya ingat sepenuhnya. Untuk filosofi judul film Prenjak, nama prenjak sendiri adalah sejenis burung yang tidak mau bersiul jika tak ada pasangannya, dan Wregas juga menambahkan bahwa praktik "wanita penjual korek api" itu nyata adanya di Yogya sekitar tahun 1990-an. Sebagai saran untuk para filmmaker indie, Wregas berkata, "Turuti kata hatimu dan jangan bohongi dirimu sendiri." Kata-katanya menegaskan bahwa para filmmaker seyogyanya berkreasi dari kecintaannya akan film dan dorongan hatinya, bukan karena tekanan, paksaan, atau hal lain. Untuk proyek film ke depannya, Wregas menyatakan bahwa dia ingin membuat film panjang. Ucapan selamat dari direktur IFI Surabaya kepada Wregas atas keberhasilannya di Festival Film Cannes menjadi penutup sesi tanya jawab ini, sekaligus penutup acara.
Mengulang kalimat Wregas, turutilah kata hati dan jangan bohongi dirimu sendiri dalam berkarya. Melihat sutradara muda sehebat Wregas Bhanuteja, saya yakin akan banyak bermunculan bakat-bakat baru yang akan mengubah wajah dunia perfilman Indonesia ke depannya.
Maju terus perfilman Indonesia!












